Messi Kembali ke New York Hadapi Spanyol di Final Piala Dunia
Lionel Messi memimpin Argentina melawan Spanyol di final Piala Dunia. Laga berlangsung di Stadion MetLife, lokasi memori kelam Messi 10 tahun lalu.
Lionel Messi bersiap menghadapi pertandingan final Piala Dunia melawan Spanyol
Memori Kelam MetLife
Stadion MetLife menyisakan luka mendalam bagi kapten timnas Argentina tersebut. Lionel Messi pernah menelan kekalahan menyakitkan dari Chile di stadion ini pada laga Final Copa America. Dia gagal mengeksekusi penalti dalam drama adu penalti yang krusial.
Kegagalan tersebut membuat Messi sempat memutuskan mundur dari panggung Internasional. Messi berkata, "Sudah selesai, tim nasional bukan untuk saya." Keputusan emosional itu sempat mengejutkan publik Sepakbola dunia sebelum akhirnya dia memilih kembali bermain.
Tantangan Versus Spanyol
Laga Final kali ini terasa kian personal karena Argentina harus menantang Spanyol. Spanyol merupakan negara yang membesarkan karier Sepakbola profesional Messi bersama Barcelona. Publik Spanyol bahkan sempat berharap sang pemain bersedia membela tim nasional mereka.
Kritik lama sempat menyebut Messi salah memilih tim nasional karena sempat sulit meraih trofi bersama Argentina. Namun kini sejarah mencatat Messi berhasil membawa negaranya meraih prestasi tertinggi. Pertandingan ini akan membuktikan pilihan terbaik dalam karier panjang sang pemain.
Persiapan Final Dunia
Skuad asuhan Lionel Scaloni dilaporkan sudah mendarat dan menetap di New Jersey. Atmosfer pertandingan Final ini semakin memanas dengan berbagai sorotan media global. Beberapa pemain Argentina dikabarkan sukses merebut posisi utama menjelang laga krusial ini.
Pihak panitia juga telah menunjuk wasit Slavko Vincic untuk memimpin jalannya laga pamungkas. Harga tiket pertandingan dilaporkan melambung tinggi hingga ribuan dolar Amerika Serikat. Pencinta Sepakbola di seluruh dunia kini menantikan duel sengit dua tim raksasa tersebut.
Mampukah Messi menghapus memori buruk masa lalu di New York? Spanyol tentu bukan lawan yang mudah untuk ditumbangkan. Apakah sang pahlawan Sepakbola akan menutup cerita fiksi ini dengan senyuman manis?